Taliwang — Ancaman radikalisme kini menyasar anak-anak, remaja, hingga ibu rumah tangga melalui media sosial. Menyikapi hal tersebut, Wakil Bupati Sumbawa Barat Hj. Hanipah, S.Pt., M.M.Inov mengajak orang tua untuk lebih waspada dan aktif melakukan deteksi dini terhadap tumbuh kembang anak.
Langkah preventif ini diwujudkan melalui inisiatif Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dengan menggelar Seminar Parenting Deteksi Dini dan Pencegahan Radikalisme pada Anak, Selasa (29/9). Seminar ini menghadirkan pemateri dari Densus 88 Antiteror Polri dan Psikolog.
Radikalisme sendiri dipahami sebagai paham yang mendorong perubahan drastis dalam tatanan sosial dan politik, kerap kali menggunakan cara-cara ekstrem hingga kekerasan. Fenomena ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah seiring bergesernya pola perekrutan kelompok radikal yang kini memanfaatkan ruang digital untuk menyasar lingkar keluarga.
Kepala Badan Kesbangpol, Syaifullah, S.IP., melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 150 peserta dari perwakilan organisasi wanita se-KSB serta masyarakat Kelurahan Sampir dan Bugis. Turut hadir Lurah Bugis Surya Darmayadi, SE., M.M.Inov., dan Lurah Sampir Muhammad Ja’far, S.T., M.M.Inov.
Dalam paparannya, tim Satgaswil NTB Densus 88 Antiteror Polri, IPDA Embun Hariyadi menilai bahwa pemerintah daerah telah menunjukkan kepedulian nyata dengan mengantisipasi pergeseran strategi perekrutan kelompok radikal yang kini lebih banyak dilakukan melalui media sosial dibandingkan tatap muka. Mereka menjelaskan bahwa sasaran utama perekrutan meliputi anak-anak, remaja, dan ibu rumah tangga, dengan peran ibu dianggap sangat krusial karena memiliki pengaruh besar terhadap anak maupun suami.
Wabup Hanipah menekankan bahwa ibu merupakan madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak-anak. Karena itu, pengawasan terhadap penggunaan gadget, pembiasaan moral sejak dini, serta penguatan kegiatan keagamaan seperti program Tuntas Baca Al-Qur’an harus dijadikan benteng utama dalam mencegah pengaruh radikalisme.
Selain itu, ia juga mengajak masyarakat semua untuk saling peduli dan berani menegur bila melihat anak-anak beraktivitas di luar batas kewajaran. Menurutnya, pencegahan radikalisme bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.