(0372) 8281747, 8281748 Fax. (0372) 8281765 prokopimksb@gmail.com

Taliwang. Forum Yasinan edisi 19 Juli 2018 dihadiri oleh banyak tamu dari Luar Kabupaten Sumbawa Barat. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap malam jumat tersebut dihadiri oleh Ketua Kelompok Kerja Industri Pedesaan KEIN-RI, Dr. Aris Muftie, S.E., S.H., M.H., Perwakilan Yayasan Desa Emas Indonesia   Erik firmansyah, dari Bank Muamalat Mataram Pak Masbullah, Perwakilan dari semaul undong, para mahasiswa KKN dari Universitas Negeri Sebelas Maret dan Universitas Gadjah Mada. Banyaknya tamu yang hadir ini menandakan bahwa Forum Yasinan telah dikenal sampai keluar Kabupaten Sumbawa Barat,  sehingga membuat banyak pihak tertarik untuk melihat secara langsung pelaksanaan Forum Yasinan di Kabupaten Sumbawa Barat.

Seperti biasanya sebelum dimulai sesi tanya jawab, Bupati Sumbawa Barat memberikan arahan secara umum terkait pelaksanaan pemerintahan selama ini. Dalam arahannya tersebut Bupati mengajak seluruh masyarakat agar tetap istiqomah mengaktifkan Forum Yasinan. “Berkat keistiqomahan kita yang sudah berlangsung lebih dari 2 tahun ini, banyak orang ingin datang dan mempelajari pola yasinan di KSB, malam ini saja kita kedatangan lebih dari 10 tamu dari berbagai wilayah bahkan dari luar negeri.” Kata Bupati.

Setelah Bupati menyampaikan arahan secara umum, dibukalah sesi tanya jawab antara masyarakat dengan Bupati. Tanya jawab dimulai oleh salah seorang warga dari Desa Rempe yang menyampaikan keluhan bahwa ada satu rumah yang sudah dibongkar karena ada informasi dari tim peliuk bahwa rumah tersebut akan dilakukan bedah rumah, namun selang beberapa lama diberitahukan lagi oleh pliuk bahwa rumah tersebut tidak jadi dilakukana bedah rumah. Hal ini menimbulkan masalah karena rumah tersebut sudah terlanjur dibongkar. “Saya minta kejelasan terkait persoalan ini” kata warga tersebut.

Bupati kemudian memerintahkan Kepala Desa Rempe untuk menanggapi dan memberikan klarifikasi. Kepala Desa Rempe kemudian memberikan klarifikasi bahwa para agen PDPGR ragu untuk melanjutkan bedah rumah terhadap rumah tersebut karena lahan dan rumahnya disinyalir masih ada sengketa diantara keluarga pemilik lahan. Oleh karena itu Kepala desa meminta agar ada bukti hitam diatas putih bahwa lahan tersebut tidak dalam sengketa, jelas kepemilikannya.

Bupati menengahi dengan menegaskan kepada kepala desa bahwa jika yang bersangkutan bisa menunjukkan bukti yang dimaksud maka rumah tersebut bisa dilakukan bedah rumah.

Selanjutnya pertanyaan dari salah seorang warga seteluk atas, yang bersangkutan menyampaikan bahwa di desa seteluk atas terdapat program bedah rumah yang tidak tepat sasaran.  Kepala desa Seteluk Atas kemudian mengklarifikasi bahwa peliuk yang bertugas di seteluk atas memang sedang dilakukan evaluasi. Jika memang terjadi penyimpangan maka peliuk tersebut akan diberi sanksi.

Selanjutnya perwakilan dari Desa Banjar, menyampaikan keluhannya kepada Bupati bahwa sudah tiga kali dia menyampaikan pengaduan namun sampai saat ini belum ada tindakan yang diambil pemerintah. Pengaduan yang disampaikan adalah terkait pencemaran sungai Tas Brantas Kecamatan Brangrea, yang efeknya hampir membunuh semua ekosistem sungai. “Dulu kami sering tangkap lobster air tawar tapi sekarang sudah tidak ada, Kami mohon tidak hanya pencegahan tapi resteukturisasi sungai.” Ungkap warga tersebut.

Menanggapi pengaduan tersebut Bupati memerintahkan kepala dinas LH untuk menjawab. Kepala dinas Lingkungan Hidup yang diwakili oleh kepala bidang Lingkungan Hidup membenarkan bahwa memang benar pada bulan juli lalu ada kasus kematian ikan di sungai banjar. “Kami sudah tangani dan turun lapangan, hanya saja kapasitas Dinas Lingkungan Hidup hanya sebagai fasilitator untuk mengambil sampel apakah benar bahwa suatu lingkungan ini tercemar atau tidak? Artinya kami menyiapkan data-data teknis terkait hal tersebut dan untuk menjadi saksi ahli di persidangan.” Ungkap staf LH. Adapun  Terkait kasus tersebut hasil sampel yang dilakukan menunjukkan bahwa kadar sianida dan bahan berbahaya lainnya di sungai tersebut masih dibawah ambang batas.

Menanggapi hal tersebut bupati mengajak Dinas LH, Kepolisian, SatpolPP, dan instansi terkait lainnya untuk bekerja sama menangani permasalahan tersebut.

Masih banyak lagi permasalahan yang diajukan oleh oleh masyarakat mulai dari pengajuan proposal bantuan sampai dengan masalah perselisihan diantara warga. Semuanya dilayani dan diselesaikan di FORUM YASINAN.

Bupati kemudian menutup pertemuan Forum Yasinan edisi 19 Juli 2018. “Bagi masyarakat yang ingin menyampaikan keluhan, saran dan pendapat terhadap kinerja Kabupaten Sumbawa Barat melalui forum ini saya mengundang seluruh masyarakat untuk tetap hadir setiap malam jum’at di FORUM YASINAN”. Kata Bupati. (Bagian Humas dan Protokol)