Benete – Hampir 80% keluarga kurang mampu di Sumbawa Barat menggantungkan hidup sebagai petani penggarap. Angka kemiskinan yang masih 10,98% itu, menurut Bupati H. Amar Nurmansyah, harus ditekan dengan intervensi serius pada sektor pertanian.
Bupati menyoroti ketimpangan pola garap lahan yang selama ini membebani para petani penggarap. Guna menjawab tantangan tersebut, pemerintah daerah menyiapkan intervensi melalui penyediaan benih, pupuk, hingga alat panen yang lebih modern guna mengurangi beban biaya produksi masyarakat.
Salah satu program yang disiapkan saat ini oleh pemerintah daerah adalah Mandiri Benih Kabupaten. Melalui program ini, pemerintah mulai mengembangkan 100 hektar lahan untuk memproduksi benih yang spesifik dengan karakter wilayah yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Saat ini, varietas tersebut masih dalam tahap uji coba laboratorium guna memastikan kecocokan dengan unsur hara tanah lokal, termasuk proyeksi ketersediaan benih organik di masa depan. Hal tersebut ditegaskan Bupati pada Kegiatan Panen Perdana Padi System of Rice Intensification (SRI) Organik di Lahan Pertanian Desa Benete, Kecamatan Maluk, Kamis (30/04/2026).
Selain itu, Bupati juga menaruh perhatian serius pada total produksi padi KSB yang mencapai kurang lebih 300.000 ton per tahun—jumlah yang jauh melebihi kebutuhan konsumsi 159.124 jiwa penduduk—Bupati menginginkan nilai tambah ekonomi tetap berputar di dalam daerah. Ia menyayangkan jika selama ini gabah hasil jerih payah petani harus dibawa keluar daerah dan kembali ke KSB dalam bentuk beras.
“Jangan sampai gabah kita dibawa keluar, lalu balik lagi ke KSB dalam bentuk beras. Kita ingin seluruh proses produksi hingga pengemasan beras premium dilakukan di sini. Untuk mendukung ekosistem ini, pemerintah juga memberikan bantuan keuangan desa secara tematik sebesar Rp150 juta per desa yang difokuskan pada pengelolaan sampah melalui Bank Sampah. Tujuannya agar sampah tersebut dapat diolah menjadi bahan baku pupuk organik yang mendukung kebutuhan petani kita secara berkelanjutan,” pungkasnya.