(0372) 8281747, 8281748 Fax. (0372) 8281765 prokopimksb@gmail.com

Taliwang, 22 Januari 2026 – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., dalam Kunjungan Kerjanya ke Kabupaten Sumbawa Barat memberikan pembekalan penting kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Sumbawa Barat. Kuliah umum bertajuk “Peran Pemerintah Daerah dalam Membangun Ekosistem Ketenagakerjaan yang Inklusif dan Berkelanjutan” ini diselenggarakan di Graha Praja dan dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., Wakil Bupati Hj. Hanipah, S.Pt., M.M.Inov., Vice President of Social Impact Priyo Pramono, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi Dan Produktivitas (Binalavotas) Darmawansyah, S.T., M.Si., Stafsus Menaker Indra, S.H., M.H., serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Sumbawa Barat.

Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa 80% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbawa Barat masih bergantung pada aktivitas pertambangan, khususnya PT. AMNT. Namun, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengurangi ketergantungan tersebut dengan memperkuat sektor non-tambang yang menunjukkan pertumbuhan positif di atas rata-rata nasional. “Alhamdulillah, di sektor non-tambang ini kita positif rata-rata per tahunnya 7-8% di atas rata-rata nasional. Sehingga APBD kami di Sumbawa Barat sangat sehat, di penghujung 2025 kemarin pendapatannya sampai 140%,” ujar Bupati Amar Nurmansyah.

Bupati juga menyinggung upaya jemput bola yang dilakukannya tujuh bulan lalu saat menemui Menteri Ketenagakerjaan untuk membahas revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) di Sumbawa Barat. BLK yang sudah ada sejak 2012 dinilai jauh dari harapan untuk menciptakan industrialisasi ketenagakerjaan. Bupati menyoroti fakta bahwa meskipun angka pengangguran terbuka berhasil diturunkan dari 4,7% menjadi 3,15% pada akhir 2025, hal ini belum sepenuhnya optimal. Serapan tenaga kerja di pembangunan smelter yang mencapai 12.000 hingga 14.000 orang, ternyata hanya mampu menyerap tenaga kerja lokal setara 2.700. Ini disebabkan oleh ketidaksesuaian kompetensi. Oleh karena itu, industrialisasi ketenagakerjaan dan revitalisasi BLK menjadi upaya krusial untuk mempersiapkan kompetensi angkatan kerja agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Dalam paparannya, Prof. Yassierli menyoroti berbagai tantangan ketenagakerjaan yang dihadapi saat ini maupun di masa depan. Ia mengidentifikasi kesenjangan kompetensi (skill mismatch) sebagai masalah utama, di mana lulusan yang banyak belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Keterbatasan akses pelatihan berkualitas, dominasi sektor informal, dan produktivitas tenaga kerja yang masih rendah turut memperparah kondisi. Lebih lanjut, Menteri Ketenagakerjaan juga mengingatkan akan tantangan mendatang seperti otomatisasi dan digitalisasi, munculnya green jobs, perubahan pola kerja, serta persaingan tenaga kerja antar daerah dan global.

Prof. Yassierli menekankan perlunya pergeseran pola pikir ASN, mulai dari membangun growth mindset, mengimplementasikan meaningful work, hingga meningkatkan profesionalisme. Konsep growth mindset diuraikan sebagai kemampuan untuk mengembangkan kecerdasan, kepribadian, dan karakter, berbeda dengan fixed mindset yang cenderung statis. Untuk meaningful work, Prof. Yassierli menjelaskan bahwa makna kerja tidak hanya lahir dari jabatan, melainkan dari bagaimana pekerjaan dijalankan dengan memberikan dampak positif. Profesionalisme dicirikan oleh integritas, pelayanan terbaik, inisiatif di luar tupoksi formal, dan inovasi. Kedepannya, ASN diharapkan dapat menerapkan sikap professional dan growth mindset dalam pekerjaannya sehari-hari.

Sebelum memberikan kuliah umum, Menteri Ketenagakerjaan telah melaksanakan Pengarahan Menteri pada Acara Penguatan Budaya K3 dengan People-Centric Safety di Townsite, PT. AMNT. Agenda Menteri di Sumbawa Barat dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan BLK di Telaga Bertong, menegaskan komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan ketenagakerjaan di Sumbawa Barat.